Caatatan dari Seorang Pengajar TPA

January 28th, 2010

Caatatan dari Seorang Pengajar TPA
PERNIK – Ahad, 14 Oktober 2001

Dahulu saya adalah orang pegunungan, dilahirkan dan di besarkan di sebuah lereng pegunungan. Biasa waktu kecil mencari kayu bakar bersama rekan-rekan saya untuk memasak ibu, dan biasa pula kami bermain layang-layang di tebing sebuah gunung. Permainan semacam ini memang mengasikkan dan tak kalah asiknya dengan jika anak-anak kota memainkan video game.

Yang membuat sedih adalah kepindahan saya, ke sebuah tempat yang agak kota sedikit. Sedih tentu karena meninggalkan rekan sepermainan yng sejak kecil sering belajar kelompok bersama, atau bahkan bermain catur bersama.

Di tempat baru suasananya mungkin sebenarnya lebih baik, yaitu bahwa di samping rumah saya ada sebuah TPA yang dikelola oleh seorang pemuda desa. TPA ini katanya didirikan belum lama, dan bangunan fisiknya hanyalah sebuah rumah yang setengah jadi saja. Didirikan karena seorang guru SMA tetangga saya itu merasa kasihan jika anaknya beserta rekan-rekannya harus jauh-jauh pergi untuk belajar membaca Al Qur’an. Namanya memang bukanlah TPA, karena pada waktu itu memang belum ada metode yang semacam Iqra’ seperti saat ini.

Seorang pesuruh SD yang masih sukwan, diminta untuk mengajar TPA ini meskipun hanya denagn honor yang kurang memadahi. Dan Alhamdulillah jikalau akhirnya ini menjadi cikal bakal yang baik bagi dakwah di dusun kami.

Dahulu saya pernah berguru kepadanya, yaitu pada saat saya SMP, belajar membaca Al Qur’an dan menghafal beberapa ayat dari al Qur’an, serta belajar Fiqih keseharian. Tiga kali seminggu termasuk cukuplah. Dan lama kelamaan sewaktu saya kelas dua SMA saya diminta untuk menemaninya mengajar, walaupun dengan kemampuan yang pas-pasan. Dan kebetulan diwaktu itu pula saya diberi Allah nikmat kesadaran untuk lebih berIslam, sehingga denagn semangat, sayapun menerima tawaran itu. Kasihan memang, karena selainnya hanya ada satu orang lagi tenaga pengajar, dan ditambah saya, sehingga total ada tiga tenaga pengajar. Dan meskipun tak sampai dapat menghasilkan lulusan TPA yang mumpuni tapi saya sangatlah bahagia jika ada anak didik yang sampai tamat Iqra’ , apalagi sampai khatam Al Qur’an. Memang apa adanya, dan tidak sampai ada wisuda-wisudaan. SPP 500 rupiah perbulan mungkin memang hanya bisa untuk membelikan kapur tulis saja.

Waktu terus berlalu, karena ada kesibukan maka salah satu rekan beliau mengundurkan diri, demikian pula saya, karena saya harus melanjutkan study di ITS; tetapi Alhamdulillah, ada famili saya juga yang menggantikan saya, meskipun ia hanya mengajar anak-anak putri. Akan tetapi seiring waktu juga ia harus kuliah di IKIP Malang. Dan Alhamdulillah ia mendapat hidayah Allah jua dan menjadi seorang akhwat yang hanif.

Tinggallah ia sekarang sendirian, yah sendirian mengurus TPA. Jika saya pulang saya masih sering mendengarkan lantunan lagu mars TPA atau hafalan do’a-do’a dari TPA di sebelah saya itu. Kami santri TK al Qur’an rajin belajar giat beramal Qur’an ditangan jadi pedoman kita sambut kebangkitan Islam ……………….

Istiqomah, mungkin demikianlah yang membuatnya terus betah untuk mengelolanya. Jika tidak maka siapa lagi yang akan mengurusnya. Jika tidak ada yang mengurusnya siapa lagi yang akan bertanggung jawab etrhadap generasi masa depan. Hanyalah seorang pesuruh SD, yang hanya tamatan SD, yang dalam hidupnya tidaklah sempat mendapatkan materi-materi kajian seperti kita di kampus, kajian tentang Ghozwul Fikri, Qoshoisud Da’wah. Yang tidak mengenal Marhalatud da’wah, Istiqomah, dan lain-lain. Akan tetapi semangatnya membuat saya sering merasa iri.

Ditengah keluarganya yang hidup pas-pasan, mungkin mencari tambahan penghasilan lebih menarik bagi banyak orang daripada mengelola TPA sendirian, atau mengelola dakwah secara sendirian. Tetapi orang yang di beri petunjuk Allah akan mempunyai pendapat lain yang kadangkala terasa aneh dari logika kebanyakan manusia umumnya.
Jika saya merasa Be Te, sering saya mengingatnya, dan seringpula saya ternasehati karenanya.

“Salam buat rekan-rekan yang terkadang merasa “sendiri” dalam dakwahnya, Istiqamah selalu”.

Wallahu a’lam
Edy santoso
achedy@yahoo.com

fie3 Kisah seorang Muslim

Doa Rosul

January 28th, 2010

Diriwayatkan oleh an Nasa’i, Imam Ahmad, Ibnu Hibban (dalam kitab Shahih-nya) dan begitu pula yang lainnya
sebagai hadis yang diterima dari Ammar bin Yasir r.a. bahwa Rasulullah saw telah berdoa dengan doa:

Ya Allah dengan pengetahuan-Mu terhadap yang gaib dan dengan kuasa-Mu atas makhluk,
hidupkanlah aku selama Engkau ketahui bahwa kehidupan itu lebih baik bagiku,
dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.

Aku memohon kepada-Mu agar aku selalu takut kepada-Mu, baik di kala sepi maupun ramai.
Aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar pada waktu marah dan tenang.
Aku memohon kepada-Mu kesederhanaan di saat fakir dan kaya.
Aku memohon kepada-mu nikmat yang tiada lenyap.
Aku memohon kepada-Mu penyejuk mata yang tidak akan terputus.
Aku memohon kepada-Mu sikap rela menerima qada sesudah terjadi.
Aku memohon kepada-Mu kehidupan yang damai sesudah mati.
Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu.
Aku memohon kepada-Mu kerinduan untuk dapat berjumpa dengan-Mu
tidak dalam keadaan susah yang membahayakan dan bukan
dalam keadaan sedang mendapat ujian yang menyesatkan.
Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang-orang yang mendapat hidayah.
Amin…
(Dikutip dari Membersihkan Hati dari Gangguan Setan,
karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Penerbit Gema Insani Press)

==============================================================
Ya Allah aku sangat menderita hidup di bawah kekuasaan zolim.

Hidup di bawah naungan saudara-saudaraku yang memerintah atas nama rakyat,
berbaju demokrasi yang memerintah dengan menghilangkan hak-Mu sebagai pembuat hukum,
memerintah dengan menuruti hawa nafsu mereka,
memerintah dengan membuat undang-undang yang sesungguhnya mereka tidak mampu untuk diri mereka sendiri,
seperti halnya Musailama al Kadzab.

Ya Allah, mereka tidak menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai dustur kehidupan,
tidak menjadikan potensi kepemimpinannya untuk kemuliaan Islam,
tidak menjadikan kelebihan harta, tenaga, dan nikmat lainnya untuk kemuliaan Islam.
Ini tidak lain karena sifat nifaq dalam diri mereka, sadarkanlah Ya Allah

Sungguh, seterjal apa pun perjalanan dakwah ini,
sesulit apa pun medan dakwah ini,
sekeras apa pun ujian dakwah ini,
ia ada batas waktunya,
ia tidak lama.
Tetapi, azab Allah atas kemaksiatan meninggalkan jalan dakwah ini adalah kekal.

Allahumma ajirna minannar, Allahumma ajirna minannar, Allhumma ajirna minannar hi salimin.

Yaa ayyuhasibannnas ayudroqu ayyaqulu amanna fahum layuftanun.

Isyhad Ya Allah anna ud’u ilal haq
Berikanlah kekuatan iman dan ketabahan bagi mereka yang istighal di jalan dakwah ini.

fie3 Doa2

Renungan Sedetik bagi Ortu Kita

January 21st, 2010

Renungan Sedetik bagi Ortu Kita
PERNIK – Ahad, 27 Januari 2002
Beberapa hari yang lalu aku menerima telepon dari salah seorang temankuliahku yang sudah lama sekali tidak pernah terdengar kabarnya.Pembicaraan yang semula mengenai kegembiraan masa lalu dan acara wisuda yang baru saja ia lalui berubah menjadi pembicaraan yang sangat menyentuh hati ketika ia bercerita mengenai ayahnya.

Kesehatan ayahnya yang memburuk akhir-akhir ini membuat ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit.Karena penyakit yang dideritanya, ayahnya menjadi susah tidur dan sering berceloteh sendiri. Temanku yang sudah beberapa hari terakhir tidak pernah tidur karena menjaga ayahnya menjadi jengkel dan berkata dengan ketus pada ayahnya supayaayahnya diam dan tidur dengan tenang.Ayahnya menjawab bahwa ia juga sebenarnya ingin beristirahat karena ia sudahlelah sekali, dan jika temanku itu keberatan menemani dirinya, biarlah iasendiri menjalani perawatan di rumah sakit. Setelah berkata demikian, ayahnya menjadi tidak sadarkan diri dan harusmenjalani perawatan di ICU [intensive care unit].

Temanku begitu menyesal atas kata-kata yang tidak selayaknya keluar darimulut seorang anak kepada ayahnya sendiri. Temanku yang aku kenal sebagai orang yang tegar, menangis tersedu-sedu diujung pesawat teleponku. Ia berkata bahwa mulai saat itu, setiap hari iaberdoa agar ayahnya sadar kembali. Apapun yang ayahnya akan katakan danperbuat pada dirinya akan diterima dengan senang hati.Ia hanya berharap padaTuhan agar diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya yang lalu, yang mungkin akan disesali seumur hidupnya…….Sering kali kita mengeluh ketika menemani atau menjaga orang tua kita hanyadalam hitungan tahun, bulan, hari, jam, bahkan dalam hitungan menit.Tapipernahkah kita pikirkan bahwa orang tua kita menemani dan menjaga kitaseumur hidup kita dan seumur hidup mereka.

Sejak lahir hingga dewasa, bahkan hingga tiba saatnya ajal menjemput,mereka selalu menyertai kita. Ketika pada akhirnya mereka menghadap Sang Kuasa pun, seluruh kenangan yang mereka tinggalkan selalu menyertai selama hidup kita.Bayangkan betapa hancur hati kedua orang tua kita oleh [hanya]sepatahkatayang singkat, ‘tidak’, yang keluar dari mulut kita ketika mereka berusaha merengkuh kita dalam pelukan kasih sayang sejati, yang justru sering kitalihat sebagai sesuatu yang mengekang dan menahan kita untuk terbang bebas diangkasa.Entah kata apa lagi yang paling tepat untuk menggantikan kata ‘tangis’ bila tiada lagi air mata yang keluar dari kedua mata mereka,karena telah habis digunakan untuk menyirami hari-hari dalam kehidupan kita agar terus tumbuh dan menghasilkan bunga dan buah yang menyemarakan hari-hari kelam dalam roda kehidupan yang terus berputar. Kita dapat mulai berjanji pada diri masing-masing bahwa sejak saat ini tiada lagi keluhan yang keluar darimulut kita ketika menemani dan menjaga kedua orang tua kita. Tiada lagi keluhan yang keluar dari mulut kita ketikamerasa merakaterlalu memperlakukan kita seperti anak kecil.

Percayalah, di luar sana banyak orang yang tidak seberuntung kita yang mempunyai orang tua, yangmerindukan hal-hal yang kita keluhkan, tetapi tidak pernah mereka dapatkan. Sebenarnya, hanya sedetik waktu yang dibutuhkan untuk merenung dan menyalakan lentera yang akan membimbing kita ke tempat di mana kedamaian terpendam. Sekarang tinggal tergantung dari diri kita sendiri, maukah kitameluangkan waktu yang sangat singkat itu namun besar artinya untuk sepanjangperjalanan hidup kita.

Anda dapat melihat keseluruhan taushiyah di group ini pada:http://groups.yahoo.com/group/taushiyah-only/messages


fie3 Islam

Hikmah Sholat

May 29th, 2009

HIKMAH SHOLAT
Sholat disyari’atkan sebagai bentuk tanda syukur kepada Allah, untuk
menghilangkan dosa-dosa, ungkapan kepatuhan dan merendahkan diri di
hadapan Allah, menggunakan anggota badan untuk berbakti kepada-Nya yang
dengannya bisa seseorang terbersih dari dosanya dan tersucikan dari
kesalahan-kesalahannya dan terajarkan akan ketaatan dan ketundukan.
Allah telah menentukan bahwa sholat merupakan syarat asasi dalam
memperkokoh hidayah dan ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam
firman-Nya:
“Alif Laaam Miiim. Kitab (Al Qur-an) tidak ada keraguan di dalamnya,
menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman
kepada yang ghaib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezki yang
Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah : 1-2).
Di samping itu Allah telah mengecualikan orang-orang yang senantiasa
memelihara sholatnya dari kebiasaan manusia pada umumnya: berkeluh kesah
dan kurang bersyukur, disebutkan dalam fiman-Nya:
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir. Apabila
ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan
ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat, yang mereka
itu tetap mengerjakan sholat.” (QS Al Ma’arij: 19-22).

Sholat Kita.cjb.net

fie3 Sholat

Hikmah Di Balik Perintah Shalat

May 29th, 2009

Hikmah Di Balik Perintah Shalat
Bulein Annur – ALSOFWAH.OR.ID
Sesungguhnya hikmah di balik perintah shalat, demikian pula hikmah di
balik larangan meninggalkannya banyak sekali, namun karena keterbatasan
ruang, kita akan menyinggung sebagian saja darinya . Di antara hikmah di
balik perintah shalat yaitu:

1. Shalat merupakan Rukun Islam Teragung setelah Dua Kalimat Syahadat
(asy Syahadatain).

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
“Islam dibangun di atas lima hal; Persaksian bahwa tiada Tuhan -yang haq
disembah- selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah; Mendirikan Shalat;
Membayar zakat; Mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa Ramadhan.”
(Muttafaqun ‘alaih)

Dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu bahwasanya tatkala Rasulullah
shallallahu ‘alihi wasallam membagi-bagikan harta rampasan perang, ada
seorang laki-laki berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, bertaqwalah
engkau kepada Allah.” Lalu beliau menjawab, “Celakalah engkau, bukankah
aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertakwa kepada Allah.?”
Maka, Khalid bin al-Walid zpun berkata, “Biar aku penggal saja lehernya,
wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Tidak, semoga saja ia kelak
melaksanakan shalat.” (Muttafaqun ‘alaih)

2. Shalat adalah Kembaran Semua Kewajiban Dan Rukun-Rukun.

Shalat merupakan ibadah yang paling banyak disebut di dalam al-Qur’an.
Terkadang disebut secara khusus (tersendiri), seperti firman-Nya, artinya,

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan sore) dan pada
bahagian permulaan malam.” (Hûd:114)

Terkadang disebut berurutan dengan sabar, seperti firman-Nya, artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan
sabar dan shalat.” (al-Baqarah:153). Terkadang disebut berurutan dengan
zakat seperti firman-Nya, “Dan dirikanlah shalat serta bayarlah zakat.”,
dan banyak lagi contoh lainnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alihi
wasallam bersabda,
“Tiga hal yang aku bersumpah atasnya, (agar) Allah tidak menjadikan siapa
saja yang memiliki bagian (saham) dalam Islam, sama seperti orang yang
tidak memilikinya. Dan saham-saham Islam itu ada tiga: shalat, puasa dan
zakat.” (Hadits Shahih)

Allah subhanahu wata’ala tidak menyebutkan shalat yang digandengkan dengan
kewajiban-kewajiban lainnya melainkan Dia mendahulukan shalat atas
selainnya. Misalnya, shalat disebutkan di dalam pembukaan amal-amal
kebajikan dan penutupnya sebagaimana dapat kita lihat pada awal surat
al-Mu’minun dan al-Ma’arij.

3. Shalat merupakan Induk Semua Ibadah.

Seorang hamba diperintahkan agar meresapi dan khusyu’ dalam shalatnya baik
secara lahiriah maupun batin dan membuat hati, lisan dan seluruh anggota
badannya larut di dalamnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu
wata’ala, “Dan berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”
(al-Baqarah:238)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam shalat
itu terdapat kesibukan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Artinya, seorang yang sedang melakukan shalat dilarang makan, minum,
menoleh dan banyak bergerak. Ini tentunya berbeda dengan ibadah-ibadah
lain selain shalat yang hanya diwajibkan atas sebagian anggota badan saja.
Orang yang berpuasa misalnya, masih boleh untuk berbicara, seorang mujahid
masih boleh menoleh-noleh dan berbicara, seorang yang melakukan haji masih
boleh makan dan minum namun shalat tidak demikian. Di dalamnya terdapat
berbagai jenis bentuk ibadah yang lengkap; ibadah hati, akal, badan dan
lisan. Ibadah lisan tercermin pada ucapan syahadatain, takbir, ta’awwudz,
basmalah, bacaan al-Qur’an, tasbih, tahmid, istighfar dan doa-doa. Ibadah
anggota badan terefleksi pada aktivitas berdiri, ruku’, sujud, i’tidal
(bangun dari ruku’), turun untuk sujud, mengangkat tangan dan duduk.
Ibadah akal terefleksi pada aktivitas berfikir, merenungi (tadabbur) dan
memahami. Sedangkan ibadah hati terefleksi pada kekhusyu’an, rasa takut,
rasa ingin mendapat pahala, kenikmatan, ketundukan dan tangis (karena rasa
takut kepada Allah subhanahu wata’ala).

4. Shalat merupakan Wasiat Terakhir Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam
.

Dalam detik-detik terakhir keberadaannya di alam fana’ ini dan di
saat-saat menghadapi sakaratul maut, Rasulullah hanya berwasiat tentang
shalat dan masalah budak saja. Hal ini sebagaimana dalam hadits shahih
yang diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Adalah kata
terakhir Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, ‘Dirikanlah Shalat,
Dirikanlah shalat. Takutlah kamu kepada Allah terhadap para budak kamu.”

5. Shalat merupakan Cermin Amalan Seorang Muslim dan Neraca Seberapa Agung
ad-Dien di Hati Seorang Mukmin.

Shalat merupakan neraca yang melaluinya manusia mengukur seluruh
amalannya; apakah bertambah atau berkurang sebagaimana halnya alat periksa
yang digunakan seorang dokter untuk memonitor tekanan darah pasiennya.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alihi wasallam
bersabda,
“Hal pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) terhadap seorang hamba
pada hari Kiamat kelak adalah shalat; bila ia baik (layak) maka akan
baiklah seluruh amalannya dan bila ia rusak, maka akan rusaklah seluruh
amalannya.”

Sebelum penilaian sisi keunggulan dilakukan terhadap hal-hal lain seperti
dalam keilmuan dan kecerdasan, maka hal paling pertama yang dijadikan
tolok ukur keunggulan antar sesama manusia adalah kondisi shalatnya.
Inilah tolok ukur yang benar dan dengannya seseorang dinilai tingkat
keberagamaan dan kedudukannya dalam Islam.

Sesungguhnya setiap orang yang menganggap ringan dan meremehkan shalat,
maka pasti ia juga menganggap ringan dan meremehkan dien al-Islam, sebab
ukuran seseorang dalam Islam itu disesuaikan dengan ukuran dari shalatnya.
Bila anda ingin mengetahui kadar keinginan anda terhadap Islam, maka
periksalah keinginan shalat anda sebab kadar keislaman di hati anda adalah
seukuran kadar shalat yang ada di dalamnya. Bila anda ingin mengukur
keimanan seorang hamba, maka lihatlah seberapa besar ia mengagungkan
shalat.

Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits Hasan,

“Siapa saja yang ingin mengetahui apa yang didapatkannya di sisi Allah,
maka hendaklah ia melihat seberapa besar (kewajiban) terhadap Allah
mendapat perhatiannya.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Wahai Anak Adam, apa lagi yang kau banggakan
dari agamamu bila shalat telah kau remehkan.”

6. Shalat merupakan Keterbebasan dari Kemunafikan.

Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang mendirikan shalat sebanyak 40 hari secara berjama’ah, ia
(selalu) mendapatkan takbir pertama, niscaya akan dicatat baginya dua
keterbebasan: keterbebasan dari api neraka dan keterbebasan dari
kemunafikan.” (Hadits Hasan)

7. Shalat merupakan Cahaya, Bukti (Hujjah) dan Kecemerlangan.

Shalat merupakan cahaya yang menghilangkan tindakan aniaya dan kebatilan.
Ia memancarkan cahaya, menjadikan elok dan kecemerlangan bagi pelakunya
-sebagaimana yang dapat dirasakan sendiri oleh kita- serta menyinari
kuburan pelakunya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Abu ad-Dardâ’
radhiyallahu ‘anhu, “Shalatlah kamu dua raka’at di kegelapan malam untuk
(menyinari) kegelapan kuburanmu.” Demikian juga, ia akan berkelap-kelip
kelak di hari Kiamat yang memancar dari jidat pelakunya. Rasulullah
shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Shalat itu adalah nur (cahaya).”
(HR.Muslim)

Dalam sabdanya yang lain, ”Shalat itu adalah bukti (Hujjah).” Yakni bukti
bagi keimanan pelakunya.

8. Shalat merupakan Anugrah Rabbani.

Shalat memiliki keistimewaan tak terhingga atas ibadah wajib lainnya,
sebab Allah subhanahu wata’ala sendiri yang telah mewajibkannya karena
mengagungkan kedudukannya. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam
sendiri pula yang langsung menerima perintah tersebut dari Allah subhanahu
wata’ala tanpa perantara, yakni pada malam Isra’. Karena itu, ia adalah
anugrah Rabbani yang dianugrahkan-Nya kepada Nabi dan kekasih-Nya,
Muhammad shallallahu ‘alihi wasallam pada malam yang begitu agung sebagai
bentuk imbalan kepada beliau atas ibadahnya yang tulus kepada Rabbnya.

fie3 Sholat

Optimisme ditengah penderitaan

May 20th, 2009

Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keberuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi beertumpuk dan berlipat ganda.
Ketika Rasulullah diusir dari Mekkah, sebelum memutuskan untuk menetap dimadinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab ditelinga dan mata sejarah.
Ketika tertimpa suatu musibah, anda harus melihat sisi yang paling terang darinya, ketika seseorang memberi anda segelas air lemon, anda perlu menambah sesendok gula kedalamnya; ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain.
Kendalikan diri anda dalam berbagai kesulitan yang anda hadapi! Dengan begitu anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada orang yang anda cintai. Dan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS.Al-Baqarah:216)
Terimalah pemberian Allah dengan rela hati dan lapang dada, baik itu berupa harta yang banyak atau sedikit, tempat tinggal yang kecil ataupun yang besar, tubuh yang gemuk ataupun yang kurus, anak laki-laki atau perempuan.
Allah berfirman: “Sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS.Al-A’raf:144)
Sebagian besar ulama salafus shaleh dan generasi awal umat ini adalah orang-orang yang secara materi termasuk fakir miskin . mereka tidak memiliki harta yang melimpah, rumah yang megah, kendaraan yang bagus, dan juga pengawal pribadi. Meski  demikian, mereka ternyata mampu membuat kehidupan ini justru lebih bermakna dan membuat diri mereka dan masyarakanya lebih bahagia. Yang demikian itu, adalah karena mereka senantiasa memanfatkan setiap pemberian Allah dijalan yang benar.
Jika anda ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawakan tubuh yang diiptakan Allah untuk anda, apapun kondisi keluarga anda, bagaimanapun suara anda, seperti apapun kemampuan daya tangkap dan pemahaman anda, dan seberapapun pengasilan anda.

fie3 Motivasi(Optimisme)

“Mengapa orang baik mengalami hal buruk?”

May 20th, 2009

Sebagian orang mengatakan bahwa kebaikan akan menghasilkan kebaikan, perbuatan seperti suka menolong orang, memberikan bantuan kepada orang lain, menjadikan kita disenangi banyak orang.
    Berpijak dari perkataan ini, banyak orang beranggapan, ketika orang baik menjalankan hidupnya dengan baik, akan selalu mendapatkan kebaikan dan tidak akan mengalami hal buruk.
    Pemahaman diatas benar, namun tidak selamanya seperti itu, pemahaman ini membuat orang berbuat sesuatu untuk mendapatkan kebaikan yang diinginkan. Memaksa hidupnya untuk melakukan kebaikan dengan tujuan. Namun, ketika ternyata, hidup tidaklah semata rangkaian kebahagiaan, mereka menjauh dari nilai-nilai kebaikan (agama), kadang menyalahkan kehidupan.
    Berfikirlah dengan benar, bahwa kehidupan ini adalah serangkaian pengalaman baik dan buruk, baik karena Allah Maha Pengasih dan Pemurah kepada hamba-Nya, buruk karena Allah ingin melihat sejauh mana iman kita kepada-Nya.
Selanjutnya, nilailah hidup ini dengan seimbang, bahwa kita memang menginginkan kebaikan tetapi sesekali kita perlu untuk diberi hal buruk, sebagaimana ada bahagia ada kesedihan, ada lapang dan ada sempit, ini adalah cara berfikir yang kita perlukan.
    Kesedihan, kekurangan, kegelisaan tidak bisa dihindarkan, dia akan kita jumpai dalam hidup. Karena kita tidak bisa menghindar, maka perlu bagi kita untuk beranggapan  bahwa keadaan yang kita alami, khususnya keadaan buruk, bukanlah semata-mata itu kemurkaan Allah kepada kita, bisa jadi itu tanda sayang Allah kepada makhluknya.

sumber dari buku “ketika orang baik mengalami hal buruk”
penulis : Fery Muhammad
penerbit : ananda publishing

fie3 Article

Syahadat

May 20th, 2009

Syahadat merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Syahadat sering disebu

t dengan Syahadatain karena terdiri dari 2 kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat). Kedua kalimat syahadat itu adalah:

  • Kalimat pertama :

    untitled

Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah  selain Allah
  • Kalimat kedua :
    untitled1
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhamad  saw adalah Rosuullah / utusan Allah.

376323258_8b5f16aafb

fie3 syahadat

Cintai Alam dan yang Ada Didalamnya

May 20th, 2009

“… Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu …” (QS.Al-Baqarah:22)

Ketika kita memiliki sesuatu, apa yang kita perbuat? Tentunya, kita akan menjaganya dengan sebaik mungkin agar tidak rusak. Kenapa? Agar dapat dipakai kembali, dan tetap memberikan manfaat.
Dalam kelangsungan hidup kita, alam berperan sangat penting. kita hidup di atas tanahnya. Menghilangkan dahaga dengan airnya. Membangun rumah dari pepohonan yang hidup diatasnya. Mengambil logam dari dalam tanahnya. Menghirup udaranya, dan yang lain.
Di alam ini, Allah menciptakan makhluk lain untuk kepentingam kita. Allah menciptakan tumbuhan, hewan. Menghadirkan malam dan siang, menurunkan hujan dan memberhentikannya. Allah menciptakan bulan, bintang, dan matahari.
Selain itu, Allah menciptakan gunung-gunung, sungai-sungai, padang pasir dan ilalang. Allah membentuk hutan dengan pepohonan yang sangat lebat untuk pertahanan. Lautan yang sangat luas untuk tempat bersemayamnya ikan-ikan dan makhluk yang tinggal di perairan.
Kita dapat menggunakan apa yang telah diciptakan Allah untuk kita, kita makan sayur-sayuran setiap hari, mangambil ikan untuk dikonsumsi, menebang pohon untuk diambil kayunya. Kita dapat melakukan itu semua, namun jangan berlebihan.
Cintailah alam beserta apa yang ada didalamnya, jaga dan rawatlah dengan kasih sayang, jangan sampai merusak ekosistem yang sudah terbentuk dengan baik, jangan merusak sistem alam yang sudah ada. Ini adalah tanggungjawab kita (manusia) sebagai khalifah dimuka bumi ini.

sumber dari buku Mencari Makna Hidup ‘Islam Sebagai Jalan Hidup’
penulis : fery muhammad
penerbit : ananda publisher

fie3 Islam sumber cinta

Mencintai ilmu pengetahuan dan agama

May 20th, 2009

Mencintai ilmu pengetahuan adalah penting. Memegang teguh perintah agama jauh lebih penting. keduanya memberikan manfaat yang besar kepada kita. Ilmu pengetahuan memberikan kepada kita cahaya dan kekuatan.  Agama memberi kita cinta, harapan dan kehangatan.
Ilmu pengetahuan dan agama saling selaras, keduaya saling mengisi. Agama islam menganjurkan ummatnya untuk mencari ilmu, menjadi manusia yang berilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan membantu manusia mempermudah kehidupannya, manusia menciptakan peralatan dengan ilmu, membangun lingkungannya dengan ilmu. Agama mengarahkan kepada jalan yang benar.
Ilmu pengetahuan mengembangkan otak manusia menjadi pintar. Agama membentuk hati menjedi lembut dan tunduk patuh kepada Allah. Ilmu pengetahuan menjadikan dunia ini menjadi dunia manusia. Agama menjadikan kehidupan menjadi kehidupan manusia.
Ilmu pengetahuan membentuk watak seseorang dan berfikir jauh kedepan. Agama memperindah perangai hati dan bertindak semata-mata mencari keridhoan Allah. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama memberikan kekuatan pada manusia.
Orang yang berilmu memudahkan seseorang mengerti akan agamanya. Orang yang beragama mendorong dirinya menghargai kehidupannya. Ilmu pengetahuan itu indah, begitu pula agama. ilmu pengetahuan  memperindah akal dan pikiran. Agama memperindah jiwa dan perasaan.
Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama membuat manusia merasa nyaman. Ilmu pengetahuan yang berkembang dan bermacam ragam telah banyak melindungi manusia dari penyakit, teriknya matahari dan dinginnya hujan, serta keganasan alam. Agama melindungi manusia terhadap keresahan, kesepian, rasa tidak aman dan pikiran picik.
Ilmu pengetahuan mengharmoniskan dunia dengan manusia, agama menyelaraskan manusia dengan dirinya. Kebutuhan manusia akan Ilmu pengetaguan maupun agama tidak bisa dipisahkan dari hidup manusia.
George Sarton, ilmuan dunia yang termansyur, penulis buku yang terkenal, “History of science” (Sejarah ilmu pengetahuan), mengatakan: “Dalam kehidupannya, manusia membutuhkan 3 hal, yaitu agama, seni. dan ilmu pengetahuan. Seni mengungkapkan keindahan. Seni adalah kenikmatan hidup. Agama berarti kasih sayang. Agama adalah musik kehidupan. Ilmu pengetahuan berarti kebenaran dan akal. Ilmu pengetahuan adalah hati nurani ummat manusia. Kita membutuhkan ketiganya.”

6. Cintai Alam dan yang Ada Didalamnya
“… Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu …” (QS.Al-Baqarah:22)

Ketika kita memiliki sesuatu, apa yang kita perbuat? Tentunya, kita akan menjaganya dengan sebaik mungkin agar tidak rusak. Kenapa? Agar dapat dipakai kembali, dan tetap memberikan manfaat.
Dalam kelangsungan hidup kita, alam berperan sangat penting. kita hidup di atas tanahnya. Menghilangkan dahaga dengan airnya. Membangun rumah dari pepohonan yang hidup diatasnya. Mengambil logam dari dalam tanahnya. Menghirup udaranya, dan yang lain.
Di alam ini, Allah menciptakan makhluk lain untuk kepentingam kita. Allah menciptakan tumbuhan, hewan. Menghadirkan malam dan siang, menurunkan hujan dan memberhentikannya. Allah menciptakan bulan, bintang, dan matahari.
Selain itu, Allah menciptakan gunung-gunung, sungai-sungai, padang pasir dan ilalang. Allah membentuk hutan dengan pepohonan yang sangat lebat untuk pertahanan. Lautan yang sangat luas untuk tempat bersemayamnya ikan-ikan dan makhluk yang tinggal di perairan.
Kita dapat menggunakan apa yang telah diciptakan Allah untuk kita, kita makan sayur-sayuran setiap hari, mangambil ikan untuk dikonsumsi, menebang pohon untuk diambil kayunya. Kita dapat melakukan itu semua, namun jangan berlebihan.
Cintailah alam beserta apa yang ada didalamnya, jaga dan rawatlah dengan kasih sayang, jangan sampai merusak ekosistem yang sudah terbentuk dengan baik, jangan merusak sistem alam yang sudah ada. Ini adalah tanggungjawab kita (manusia) sebagai khalifah dimuka bumi ini.

sumber dari buku Mencari Makna Hidup ‘Islam Sebagai Jalan Hidup’
penulis : fery muhammad
penerbit : ananda publisher

fie3 Islam sumber cinta