Saat berbicara tentang agama, dan siapa yang mengerti apa pentingnya agama, kita akan berfikir pada satu makhluk, yakni manusia, yang merupakan makhluk paling sempurna dibanding makhluk lain, baik tumbuhan dan binatang.
Binatang dan tumbuhan tidak punya akal fikiran, apalagi Qalbu. Dalam kesehariannya, binatang hanya mengandalkan naluri. Karena itu, binatang tidak dapat melakukan inovasi untuk membuat hidupnya lebih nyaman.
Kita boleh merenungkan, adakah makhluk lain yang punya kelebihan melebihi manusia?
Alibasyah (2001) mengkaji isi al-Qur’an dan menyebutkan berbagai hal tentang manusia, yaitu: 1.) Manusia dicipta oleh Allah dalam bentuk dan keadaan syang sebaik-baiknyaa [at-Tin (95):4] 2.) Manusia dimuliakan dibandingkan dengan kebanyakan makhluk-makhluk yang lain [al-Isra(117):70]. 3.) manusia bersifat keluh kesah lagi kikir [al-ma’arij (70): 19]. 4.) Manusia sangat banyak yang membantah [al-kahfi (18):54].
Mengapa manusia bisa melakukan hal yang lebih buruk dari makhluk lain?
Lihatlah, banyak kerusakan alam yang terjadi akibat tangan jahil manusia, ada manusia yang tega membunuh sesamanya, ada yang tidak risih menyakiti hati orang lain. Apakah makhluk lain melakukan hal demikian?
Siapakah sebenarnya manusia, bagaimana sifatnya, manusia seperti apa yang baik? Dan mengapa mereka bisa melakukan hal buruk?
Setiap manusia, mempunyai potensi untuk berbuat baik atau sebaliknya berbuat yang lebih hina dari pada binatang. Sehingga ada manusia yang menjadi mulia, dan ada yang menjadi sangat hina. Kita perlu merenungkan penyebab dari kedua kutup tersebut.
Ada banyak aspek yang membentuk manusia menjadi buruk, atau sebaliknya. Misalnya, pengaruh lingkungan, baik dirumah dan ditempat kerja. Pendidikan juga mempengaruhi, keseimbangan pendidikan dapat menadikan seseorang menjadi pribadi yang cerdas dan bersahaja. Yang selanjutnya adalah teman, dengan siapa dia bergaul, siapa yang menjadi panutannya, dan siapa idolanya.
Pentingnya sebuah pelita
Ibarat orang yang berjalan, ada yang berada dalam kondisi terang karena adanya cahaya, dan ada yang berjalan di kegelapan. Yang pertama dapat melihat jalan dengan jelas, sehingga dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk, jalan mana yang mestinya dilalui untuk mencari jalan hidupnya. Akan tetapi yang kedua, orang tersebut sulit kemana arah yang akan dituju, dia sering terantuk batu, menabrak ataupun bahkan masuk kejurang kenistaan.
Secara fitrah, manusia dilahirkan dalam kondisi tanpa apa-apa, dari seorang ibu. Bayi yang baru lahir belum dapat menggunakan akal fikiran dan alat indranya untuk dapat digunakan sebagai bekal mengarungi kehidupan.
Dengan berjalannya waktu, detik ke-menit, hari ke-bulan, dan selanjutnya, usia kita semakin bertambah, kita mulai memiliki ketangkasan dan ilmu dari sekolah dan didikan keluarga. Dengan ini, akal kita mulai terlatih, dan seharusnya, kita telah mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus kita kerjakan dan mana yang tidak, mana yang harus kita pegang dan mana yang perlu kita hindari. Berubahlah dan berkembanglah menuju sesuatu yang lebih baik.
Tentang peran manusia didunia
Banyak pendapat mengenai hal ini, akan tetapi mari kita renungkan dari qalbu kita. Betapa banyaknya materi, harta, kedudukan, istri/suami, anak dan sebagainya, tetapi kalau sudah kita tinggalkan, tidak ada yang mengikuti.
Natsir (1978) mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah menyembah Alah SWT. Dalam hal ini semua kegiatan manusia, baik yang berupa ibadah kepada Allah maupun muamalah, semuanya itu dilakukan dalam rangka persembahannya kepada Allah, dengan niat hendak mencapai keridhaan Allah.
Kita perlu merenungkan kembali bagaimana kehidupan yang kita jalani. Apakah kehidupan kita ini untuk berkhidmat kepada Allah atau kepada gemerlapnya dunia. Disebutkan dalam hadits qudsi, riwayat al Qudha’i yang bersumber dari ibnu Ma’ud r.a.: “Wahai dunia! Berkhidmatlah kepada orang yang berkhidmat kepadaku dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu”.
Manusia yang sadar akan hakikat kehidupan akan mengatakan bahwa hidup manusia juga merupakan pra kualifikasi. Manusia yang kualifikasi baik akan menemui kehidupan yang jauh lebih baik, dialah akhir kelak secara kekal. Akan tetapi manusia yang ingkar, kafir akan menemui kehidupan yang buruk dan kekal di zaman akhir kelak.
Agama sebagai pelita
Manusia yang hidup didunia memerluan cahaya agar apa yang dijalani selalu diterangi. Dalam hal ini agama yang hanif dan lurus merupakan cahaya diatas cahaya. Cahaya yang tidak hanya menerangi kehidupan secara fisik atau lahir saja, tetapi dapat juga menerangi qalbu kita. Tinggal bagaimana manusia itu mau tidak diberikan cahaya tersebut.
Dalam era sekarang ini banyak orang yang sudah tahu akan cahaya itu. Karena tidak ada alasan lagi untuk tidak tahu. Informasi alam berbagai bentuk dapat dengan mudah di akses dalam waktu yang sekejap. Akan tetapi dalam menggunakan pelita sebagai cahaya masih pilih-pilih. Pelita yang kita gunakan sering hanya dalam waktu tertentu saja: shalat, majelis ta’lim saja. Atau kita menggunakan pelita hanya secara seremonial. Pelita sering kita tinggalkan waktu kita dijalan, waktu bekerja dan melakukan aktivitas keseharian.
Sering kehidupan yang kita jalani dengan penuh kegelapan dan kita tidak mau menggunakan pelita itu, sehingga sering bertabrakan dengan aturan, teman, dan lainnya. Akibatnya kita menderita sakit. Sakit yang paling parah menimpa kita adalah sakit hati. Dalam hal ini bukan hanya penyakit yang bersifat fisik, tetapi lebih dari itu, Allah sudah memberikan garansi dan keridhoannya bahwa pelita itu sungguh sempurna. Dalam surat al-Maidah (5)3 Allah berfirman: “..Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agama bagimu..”.
Al-qur’an sebagai pelita bukan hanya dalam ibadah mahdoh, pahala, surga dan neraka. Akan tetapi al-Qur’an merupakan sumber pencerahan dari segala hal bagi manusia, termasuk untuk menggapai kemajuan Iptek untuk kesejahteraan ummat manusia. Perlu disimak ayat-ayat al-Qur’an yang memberikan pelita mengenai perkembangan ilmu pengetahuan. Yaasin (36) :36 yang menerangkan bahwa di bumi ini diciptakan sesuatu berpasang-pasangan. Al- zalzalah (99):1-2 yang menerangkan mengenai bumi dan isi perut bumi. Al-Hajj (22):47 yang menerangkan adanya perbedaan lamanya waktu. Sehingga oleh Einstein disebut sebagai hukum relatifitas. Sebelum Einstein mengungkap masalah relatifitas waktu, orang masih banyak yang belum percaya akan isi al-Qur’an ini. surat an Naml;88, yang menerangkan adanya pergerakan lempeng. Sehingga ditemukannya kenyataan bahwa pantai timur benua Amerika sisi selatan dahulunya gandeng dengan pantai barat benua Afrika. Kepulauan Hawaii juga masih bergerak. Dengan diketemukannya alat Global Positioning System (GPS) maka pergerakan bagian permukaan bumi ini dapat diketahui dengan lebih mudah.
Hati merupakan cermin, jika cermin itu bersih maka dapat memantulkan cahaya dari pelita. Atau bagaikan bulan yang mampu memantulkan sinar matahari. Sehingga bulan dapat memberikan penerangan kepada belahan yang sedang tidak menerima sinar matahari secara langsung. Dengan adanya bulan, permukaan belahan bumi yang sedang waktu malam tidaklah gelap gulita. Jika cermin itu kotor dan buram maka tiak mampu memantulkan cahaa tersebut.
Genggamlah pelita, dimanapun kita berada, kita akan dapat berjalan dengan sinar yang terang, mengikuti ridho Allah.
Oleh : DR. Ir. Nurcholis M.Agr
Article
Article