Archive

Archive for May, 2009

Hikmah Sholat

May 29th, 2009

HIKMAH SHOLAT
Sholat disyari’atkan sebagai bentuk tanda syukur kepada Allah, untuk
menghilangkan dosa-dosa, ungkapan kepatuhan dan merendahkan diri di
hadapan Allah, menggunakan anggota badan untuk berbakti kepada-Nya yang
dengannya bisa seseorang terbersih dari dosanya dan tersucikan dari
kesalahan-kesalahannya dan terajarkan akan ketaatan dan ketundukan.
Allah telah menentukan bahwa sholat merupakan syarat asasi dalam
memperkokoh hidayah dan ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam
firman-Nya:
“Alif Laaam Miiim. Kitab (Al Qur-an) tidak ada keraguan di dalamnya,
menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman
kepada yang ghaib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezki yang
Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah : 1-2).
Di samping itu Allah telah mengecualikan orang-orang yang senantiasa
memelihara sholatnya dari kebiasaan manusia pada umumnya: berkeluh kesah
dan kurang bersyukur, disebutkan dalam fiman-Nya:
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir. Apabila
ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan
ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat, yang mereka
itu tetap mengerjakan sholat.” (QS Al Ma’arij: 19-22).

Sholat Kita.cjb.net

Sholat

Hikmah Di Balik Perintah Shalat

May 29th, 2009

Hikmah Di Balik Perintah Shalat
Bulein Annur – ALSOFWAH.OR.ID
Sesungguhnya hikmah di balik perintah shalat, demikian pula hikmah di
balik larangan meninggalkannya banyak sekali, namun karena keterbatasan
ruang, kita akan menyinggung sebagian saja darinya . Di antara hikmah di
balik perintah shalat yaitu:

1. Shalat merupakan Rukun Islam Teragung setelah Dua Kalimat Syahadat
(asy Syahadatain).

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
“Islam dibangun di atas lima hal; Persaksian bahwa tiada Tuhan -yang haq
disembah- selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah; Mendirikan Shalat;
Membayar zakat; Mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa Ramadhan.”
(Muttafaqun ‘alaih)

Dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu bahwasanya tatkala Rasulullah
shallallahu ‘alihi wasallam membagi-bagikan harta rampasan perang, ada
seorang laki-laki berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, bertaqwalah
engkau kepada Allah.” Lalu beliau menjawab, “Celakalah engkau, bukankah
aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertakwa kepada Allah.?”
Maka, Khalid bin al-Walid zpun berkata, “Biar aku penggal saja lehernya,
wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Tidak, semoga saja ia kelak
melaksanakan shalat.” (Muttafaqun ‘alaih)

2. Shalat adalah Kembaran Semua Kewajiban Dan Rukun-Rukun.

Shalat merupakan ibadah yang paling banyak disebut di dalam al-Qur’an.
Terkadang disebut secara khusus (tersendiri), seperti firman-Nya, artinya,

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan sore) dan pada
bahagian permulaan malam.” (Hûd:114)

Terkadang disebut berurutan dengan sabar, seperti firman-Nya, artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan
sabar dan shalat.” (al-Baqarah:153). Terkadang disebut berurutan dengan
zakat seperti firman-Nya, “Dan dirikanlah shalat serta bayarlah zakat.”,
dan banyak lagi contoh lainnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alihi
wasallam bersabda,
“Tiga hal yang aku bersumpah atasnya, (agar) Allah tidak menjadikan siapa
saja yang memiliki bagian (saham) dalam Islam, sama seperti orang yang
tidak memilikinya. Dan saham-saham Islam itu ada tiga: shalat, puasa dan
zakat.” (Hadits Shahih)

Allah subhanahu wata’ala tidak menyebutkan shalat yang digandengkan dengan
kewajiban-kewajiban lainnya melainkan Dia mendahulukan shalat atas
selainnya. Misalnya, shalat disebutkan di dalam pembukaan amal-amal
kebajikan dan penutupnya sebagaimana dapat kita lihat pada awal surat
al-Mu’minun dan al-Ma’arij.

3. Shalat merupakan Induk Semua Ibadah.

Seorang hamba diperintahkan agar meresapi dan khusyu’ dalam shalatnya baik
secara lahiriah maupun batin dan membuat hati, lisan dan seluruh anggota
badannya larut di dalamnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu
wata’ala, “Dan berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”
(al-Baqarah:238)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam shalat
itu terdapat kesibukan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Artinya, seorang yang sedang melakukan shalat dilarang makan, minum,
menoleh dan banyak bergerak. Ini tentunya berbeda dengan ibadah-ibadah
lain selain shalat yang hanya diwajibkan atas sebagian anggota badan saja.
Orang yang berpuasa misalnya, masih boleh untuk berbicara, seorang mujahid
masih boleh menoleh-noleh dan berbicara, seorang yang melakukan haji masih
boleh makan dan minum namun shalat tidak demikian. Di dalamnya terdapat
berbagai jenis bentuk ibadah yang lengkap; ibadah hati, akal, badan dan
lisan. Ibadah lisan tercermin pada ucapan syahadatain, takbir, ta’awwudz,
basmalah, bacaan al-Qur’an, tasbih, tahmid, istighfar dan doa-doa. Ibadah
anggota badan terefleksi pada aktivitas berdiri, ruku’, sujud, i’tidal
(bangun dari ruku’), turun untuk sujud, mengangkat tangan dan duduk.
Ibadah akal terefleksi pada aktivitas berfikir, merenungi (tadabbur) dan
memahami. Sedangkan ibadah hati terefleksi pada kekhusyu’an, rasa takut,
rasa ingin mendapat pahala, kenikmatan, ketundukan dan tangis (karena rasa
takut kepada Allah subhanahu wata’ala).

4. Shalat merupakan Wasiat Terakhir Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam
.

Dalam detik-detik terakhir keberadaannya di alam fana’ ini dan di
saat-saat menghadapi sakaratul maut, Rasulullah hanya berwasiat tentang
shalat dan masalah budak saja. Hal ini sebagaimana dalam hadits shahih
yang diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Adalah kata
terakhir Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, ‘Dirikanlah Shalat,
Dirikanlah shalat. Takutlah kamu kepada Allah terhadap para budak kamu.”

5. Shalat merupakan Cermin Amalan Seorang Muslim dan Neraca Seberapa Agung
ad-Dien di Hati Seorang Mukmin.

Shalat merupakan neraca yang melaluinya manusia mengukur seluruh
amalannya; apakah bertambah atau berkurang sebagaimana halnya alat periksa
yang digunakan seorang dokter untuk memonitor tekanan darah pasiennya.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alihi wasallam
bersabda,
“Hal pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) terhadap seorang hamba
pada hari Kiamat kelak adalah shalat; bila ia baik (layak) maka akan
baiklah seluruh amalannya dan bila ia rusak, maka akan rusaklah seluruh
amalannya.”

Sebelum penilaian sisi keunggulan dilakukan terhadap hal-hal lain seperti
dalam keilmuan dan kecerdasan, maka hal paling pertama yang dijadikan
tolok ukur keunggulan antar sesama manusia adalah kondisi shalatnya.
Inilah tolok ukur yang benar dan dengannya seseorang dinilai tingkat
keberagamaan dan kedudukannya dalam Islam.

Sesungguhnya setiap orang yang menganggap ringan dan meremehkan shalat,
maka pasti ia juga menganggap ringan dan meremehkan dien al-Islam, sebab
ukuran seseorang dalam Islam itu disesuaikan dengan ukuran dari shalatnya.
Bila anda ingin mengetahui kadar keinginan anda terhadap Islam, maka
periksalah keinginan shalat anda sebab kadar keislaman di hati anda adalah
seukuran kadar shalat yang ada di dalamnya. Bila anda ingin mengukur
keimanan seorang hamba, maka lihatlah seberapa besar ia mengagungkan
shalat.

Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits Hasan,

“Siapa saja yang ingin mengetahui apa yang didapatkannya di sisi Allah,
maka hendaklah ia melihat seberapa besar (kewajiban) terhadap Allah
mendapat perhatiannya.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Wahai Anak Adam, apa lagi yang kau banggakan
dari agamamu bila shalat telah kau remehkan.”

6. Shalat merupakan Keterbebasan dari Kemunafikan.

Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang mendirikan shalat sebanyak 40 hari secara berjama’ah, ia
(selalu) mendapatkan takbir pertama, niscaya akan dicatat baginya dua
keterbebasan: keterbebasan dari api neraka dan keterbebasan dari
kemunafikan.” (Hadits Hasan)

7. Shalat merupakan Cahaya, Bukti (Hujjah) dan Kecemerlangan.

Shalat merupakan cahaya yang menghilangkan tindakan aniaya dan kebatilan.
Ia memancarkan cahaya, menjadikan elok dan kecemerlangan bagi pelakunya
-sebagaimana yang dapat dirasakan sendiri oleh kita- serta menyinari
kuburan pelakunya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Abu ad-Dardâ’
radhiyallahu ‘anhu, “Shalatlah kamu dua raka’at di kegelapan malam untuk
(menyinari) kegelapan kuburanmu.” Demikian juga, ia akan berkelap-kelip
kelak di hari Kiamat yang memancar dari jidat pelakunya. Rasulullah
shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Shalat itu adalah nur (cahaya).”
(HR.Muslim)

Dalam sabdanya yang lain, ”Shalat itu adalah bukti (Hujjah).” Yakni bukti
bagi keimanan pelakunya.

8. Shalat merupakan Anugrah Rabbani.

Shalat memiliki keistimewaan tak terhingga atas ibadah wajib lainnya,
sebab Allah subhanahu wata’ala sendiri yang telah mewajibkannya karena
mengagungkan kedudukannya. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam
sendiri pula yang langsung menerima perintah tersebut dari Allah subhanahu
wata’ala tanpa perantara, yakni pada malam Isra’. Karena itu, ia adalah
anugrah Rabbani yang dianugrahkan-Nya kepada Nabi dan kekasih-Nya,
Muhammad shallallahu ‘alihi wasallam pada malam yang begitu agung sebagai
bentuk imbalan kepada beliau atas ibadahnya yang tulus kepada Rabbnya.

Sholat

Optimisme ditengah penderitaan

May 20th, 2009

Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keberuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi beertumpuk dan berlipat ganda.
Ketika Rasulullah diusir dari Mekkah, sebelum memutuskan untuk menetap dimadinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab ditelinga dan mata sejarah.
Ketika tertimpa suatu musibah, anda harus melihat sisi yang paling terang darinya, ketika seseorang memberi anda segelas air lemon, anda perlu menambah sesendok gula kedalamnya; ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain.
Kendalikan diri anda dalam berbagai kesulitan yang anda hadapi! Dengan begitu anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada orang yang anda cintai. Dan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS.Al-Baqarah:216)
Terimalah pemberian Allah dengan rela hati dan lapang dada, baik itu berupa harta yang banyak atau sedikit, tempat tinggal yang kecil ataupun yang besar, tubuh yang gemuk ataupun yang kurus, anak laki-laki atau perempuan.
Allah berfirman: “Sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS.Al-A’raf:144)
Sebagian besar ulama salafus shaleh dan generasi awal umat ini adalah orang-orang yang secara materi termasuk fakir miskin . mereka tidak memiliki harta yang melimpah, rumah yang megah, kendaraan yang bagus, dan juga pengawal pribadi. Meski  demikian, mereka ternyata mampu membuat kehidupan ini justru lebih bermakna dan membuat diri mereka dan masyarakanya lebih bahagia. Yang demikian itu, adalah karena mereka senantiasa memanfatkan setiap pemberian Allah dijalan yang benar.
Jika anda ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawakan tubuh yang diiptakan Allah untuk anda, apapun kondisi keluarga anda, bagaimanapun suara anda, seperti apapun kemampuan daya tangkap dan pemahaman anda, dan seberapapun pengasilan anda.

Motivasi(Optimisme)

“Mengapa orang baik mengalami hal buruk?”

May 20th, 2009

Sebagian orang mengatakan bahwa kebaikan akan menghasilkan kebaikan, perbuatan seperti suka menolong orang, memberikan bantuan kepada orang lain, menjadikan kita disenangi banyak orang.
    Berpijak dari perkataan ini, banyak orang beranggapan, ketika orang baik menjalankan hidupnya dengan baik, akan selalu mendapatkan kebaikan dan tidak akan mengalami hal buruk.
    Pemahaman diatas benar, namun tidak selamanya seperti itu, pemahaman ini membuat orang berbuat sesuatu untuk mendapatkan kebaikan yang diinginkan. Memaksa hidupnya untuk melakukan kebaikan dengan tujuan. Namun, ketika ternyata, hidup tidaklah semata rangkaian kebahagiaan, mereka menjauh dari nilai-nilai kebaikan (agama), kadang menyalahkan kehidupan.
    Berfikirlah dengan benar, bahwa kehidupan ini adalah serangkaian pengalaman baik dan buruk, baik karena Allah Maha Pengasih dan Pemurah kepada hamba-Nya, buruk karena Allah ingin melihat sejauh mana iman kita kepada-Nya.
Selanjutnya, nilailah hidup ini dengan seimbang, bahwa kita memang menginginkan kebaikan tetapi sesekali kita perlu untuk diberi hal buruk, sebagaimana ada bahagia ada kesedihan, ada lapang dan ada sempit, ini adalah cara berfikir yang kita perlukan.
    Kesedihan, kekurangan, kegelisaan tidak bisa dihindarkan, dia akan kita jumpai dalam hidup. Karena kita tidak bisa menghindar, maka perlu bagi kita untuk beranggapan  bahwa keadaan yang kita alami, khususnya keadaan buruk, bukanlah semata-mata itu kemurkaan Allah kepada kita, bisa jadi itu tanda sayang Allah kepada makhluknya.

sumber dari buku “ketika orang baik mengalami hal buruk”
penulis : Fery Muhammad
penerbit : ananda publishing

Article

Syahadat

May 20th, 2009

Syahadat merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Syahadat sering disebu

t dengan Syahadatain karena terdiri dari 2 kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat). Kedua kalimat syahadat itu adalah:

  • Kalimat pertama :

    untitled

Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah  selain Allah
  • Kalimat kedua :
    untitled1
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhamad  saw adalah Rosuullah / utusan Allah.

376323258_8b5f16aafb

syahadat

Cintai Alam dan yang Ada Didalamnya

May 20th, 2009

“… Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu …” (QS.Al-Baqarah:22)

Ketika kita memiliki sesuatu, apa yang kita perbuat? Tentunya, kita akan menjaganya dengan sebaik mungkin agar tidak rusak. Kenapa? Agar dapat dipakai kembali, dan tetap memberikan manfaat.
Dalam kelangsungan hidup kita, alam berperan sangat penting. kita hidup di atas tanahnya. Menghilangkan dahaga dengan airnya. Membangun rumah dari pepohonan yang hidup diatasnya. Mengambil logam dari dalam tanahnya. Menghirup udaranya, dan yang lain.
Di alam ini, Allah menciptakan makhluk lain untuk kepentingam kita. Allah menciptakan tumbuhan, hewan. Menghadirkan malam dan siang, menurunkan hujan dan memberhentikannya. Allah menciptakan bulan, bintang, dan matahari.
Selain itu, Allah menciptakan gunung-gunung, sungai-sungai, padang pasir dan ilalang. Allah membentuk hutan dengan pepohonan yang sangat lebat untuk pertahanan. Lautan yang sangat luas untuk tempat bersemayamnya ikan-ikan dan makhluk yang tinggal di perairan.
Kita dapat menggunakan apa yang telah diciptakan Allah untuk kita, kita makan sayur-sayuran setiap hari, mangambil ikan untuk dikonsumsi, menebang pohon untuk diambil kayunya. Kita dapat melakukan itu semua, namun jangan berlebihan.
Cintailah alam beserta apa yang ada didalamnya, jaga dan rawatlah dengan kasih sayang, jangan sampai merusak ekosistem yang sudah terbentuk dengan baik, jangan merusak sistem alam yang sudah ada. Ini adalah tanggungjawab kita (manusia) sebagai khalifah dimuka bumi ini.

sumber dari buku Mencari Makna Hidup ‘Islam Sebagai Jalan Hidup’
penulis : fery muhammad
penerbit : ananda publisher

Islam sumber cinta

Mencintai ilmu pengetahuan dan agama

May 20th, 2009

Mencintai ilmu pengetahuan adalah penting. Memegang teguh perintah agama jauh lebih penting. keduanya memberikan manfaat yang besar kepada kita. Ilmu pengetahuan memberikan kepada kita cahaya dan kekuatan.  Agama memberi kita cinta, harapan dan kehangatan.
Ilmu pengetahuan dan agama saling selaras, keduaya saling mengisi. Agama islam menganjurkan ummatnya untuk mencari ilmu, menjadi manusia yang berilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan membantu manusia mempermudah kehidupannya, manusia menciptakan peralatan dengan ilmu, membangun lingkungannya dengan ilmu. Agama mengarahkan kepada jalan yang benar.
Ilmu pengetahuan mengembangkan otak manusia menjadi pintar. Agama membentuk hati menjedi lembut dan tunduk patuh kepada Allah. Ilmu pengetahuan menjadikan dunia ini menjadi dunia manusia. Agama menjadikan kehidupan menjadi kehidupan manusia.
Ilmu pengetahuan membentuk watak seseorang dan berfikir jauh kedepan. Agama memperindah perangai hati dan bertindak semata-mata mencari keridhoan Allah. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama memberikan kekuatan pada manusia.
Orang yang berilmu memudahkan seseorang mengerti akan agamanya. Orang yang beragama mendorong dirinya menghargai kehidupannya. Ilmu pengetahuan itu indah, begitu pula agama. ilmu pengetahuan  memperindah akal dan pikiran. Agama memperindah jiwa dan perasaan.
Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama membuat manusia merasa nyaman. Ilmu pengetahuan yang berkembang dan bermacam ragam telah banyak melindungi manusia dari penyakit, teriknya matahari dan dinginnya hujan, serta keganasan alam. Agama melindungi manusia terhadap keresahan, kesepian, rasa tidak aman dan pikiran picik.
Ilmu pengetahuan mengharmoniskan dunia dengan manusia, agama menyelaraskan manusia dengan dirinya. Kebutuhan manusia akan Ilmu pengetaguan maupun agama tidak bisa dipisahkan dari hidup manusia.
George Sarton, ilmuan dunia yang termansyur, penulis buku yang terkenal, “History of science” (Sejarah ilmu pengetahuan), mengatakan: “Dalam kehidupannya, manusia membutuhkan 3 hal, yaitu agama, seni. dan ilmu pengetahuan. Seni mengungkapkan keindahan. Seni adalah kenikmatan hidup. Agama berarti kasih sayang. Agama adalah musik kehidupan. Ilmu pengetahuan berarti kebenaran dan akal. Ilmu pengetahuan adalah hati nurani ummat manusia. Kita membutuhkan ketiganya.”

6. Cintai Alam dan yang Ada Didalamnya
“… Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu …” (QS.Al-Baqarah:22)

Ketika kita memiliki sesuatu, apa yang kita perbuat? Tentunya, kita akan menjaganya dengan sebaik mungkin agar tidak rusak. Kenapa? Agar dapat dipakai kembali, dan tetap memberikan manfaat.
Dalam kelangsungan hidup kita, alam berperan sangat penting. kita hidup di atas tanahnya. Menghilangkan dahaga dengan airnya. Membangun rumah dari pepohonan yang hidup diatasnya. Mengambil logam dari dalam tanahnya. Menghirup udaranya, dan yang lain.
Di alam ini, Allah menciptakan makhluk lain untuk kepentingam kita. Allah menciptakan tumbuhan, hewan. Menghadirkan malam dan siang, menurunkan hujan dan memberhentikannya. Allah menciptakan bulan, bintang, dan matahari.
Selain itu, Allah menciptakan gunung-gunung, sungai-sungai, padang pasir dan ilalang. Allah membentuk hutan dengan pepohonan yang sangat lebat untuk pertahanan. Lautan yang sangat luas untuk tempat bersemayamnya ikan-ikan dan makhluk yang tinggal di perairan.
Kita dapat menggunakan apa yang telah diciptakan Allah untuk kita, kita makan sayur-sayuran setiap hari, mangambil ikan untuk dikonsumsi, menebang pohon untuk diambil kayunya. Kita dapat melakukan itu semua, namun jangan berlebihan.
Cintailah alam beserta apa yang ada didalamnya, jaga dan rawatlah dengan kasih sayang, jangan sampai merusak ekosistem yang sudah terbentuk dengan baik, jangan merusak sistem alam yang sudah ada. Ini adalah tanggungjawab kita (manusia) sebagai khalifah dimuka bumi ini.

sumber dari buku Mencari Makna Hidup ‘Islam Sebagai Jalan Hidup’
penulis : fery muhammad
penerbit : ananda publisher

Islam sumber cinta

Mencintai Orang Tua

May 20th, 2009

Allah berfirman : “….. Hendaklah kalian berbuat baik kepada orang tua dengan sebaik-baiknya; jika salah seorang diantara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya dan ucapkan kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkan dirimu terhadap keduannya dengan penuh sayang, dan ucapkan, “wahai Tuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana keduannya telah mendidikku diwaktu kecil.” (QS.al-Isra’:23)
Rasulullah bersabda: “ Keridhoan Allah terletak pada keridhoan ibu bapak dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan ibu bapak” (HR.Tirmidzi)
Orang tua menduduki posisi paling terhormat dalam Islam. Islam mengangkat kedudukan orang tua pada kedudukan yang belum pernah di kenal manusia di luar agama ini. Islam meletakkan berbuat baik kepada orang tua di peringkat kedua setelah peringkat beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah.
Allah berfirman : “Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada orang tua.” (QS.An-Nisa’:36)
Seorang sahabat pernah menjelaskan : “ Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘perbuatan apa yang paling  dicintai Allah?’Rasul SAW bersabda, ‘shalat pada waktunya.’ Aku bertanya, ‘perbuatan apa lagi?’ Rasulullah SAW bersabda, ‘ berbakti kepada orang tua.’ Aku bertanya, ‘perbuatan apa lagi?’ Rasul SAW bersabda, ‘berjihad di jalan Allah’.” (Muttafaq Alaih).
Jangan pernah kita mendurhakai orang tua. Hal ini amat dikutuk oleh Allah SWT. Rasulullah bersabda : “Maukah kalian aku beri tahu dosa besar yang paling besar? “beliau bersabda seperti itu hingga tiga kali. Kami berkata, “Ya, mau wahai Rasullah.” Rasulullah SAW bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua.” (Muttafaq Alaih)
Dalam hadits lain di jelaskan: “Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah seraya bertanya: “Ya Rasulullah, siapa gerangan orang yang harus aku pergauli dengan baik?” Rasul menjawab : “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi:  “Siapa lagi? Rasul menjawab: “Bapakmu.” (HR. Bukhari)
Berbaktilah kepada kedua orang tuamu karena ini baik bagimu. Jika seorang anak berbakti kepada orang tua, kelak anak-anak mereka juga akan berbakti kepada mereka. Rasulullah bersabda: “Berbuat baiklah kamu kepada bapakmu, niscaya anak-anakmu akan berbuat baik padamu. (HR. Hakim)
Jika seorang anak berbuat baik kepada orang tua, maka ibunya akan bahagia, begitupun dengan anak itu, sebagaimana sabda Rasulullah : “Barang siapa yang berbuat baik kepada orang tuanya, berbahagialah baginya dan Allah akan menambah umurnya. (HR.Bukhari)

sumber dari buku Mencari Makna Hidup ‘Islam Sebagai Jalan Hidup’
penulis : fery muhammad
penerbit : ananda publisher

Islam sumber cinta

Mencintai Rasulullah

May 20th, 2009

muhammadurrasulullah-1Kecintaan terhadap Rasulullah yang paling baik adalah mematuhi Allah dan Beliau sendiri. Bukti cinta pada Allah dengan berdzikir, sedang bukti cinta terhadap Rasulullah dengan bershalawat.
Orang beriman akan selalu bersholawat untuk Rasulullah, karena ini bentuk rasa cintanya kepada beliau. Tidaklah pantas, orang yang mengatakan bahwa dia cinta Rasulullah namun  pelit untuk mengucap shalawat.
Pada suatu kesempatan, Rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya, kemudian beliau bersabda, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail A.S. telah berkata kepadaku.” Keempat malaikat ini masing-masing mengungkapkan bantuan yang akan mereka berikan kepada orang yang sering mengucapkan shalawat.
Berkata Jibril A.S. : “Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca sholawat kepadamu setiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.”
Berkata pula Mikail A.S. : “Mereka yang bersholawat ke atasmu, akanku beri mereka itu minum dari telagamu.”
Berkata pula Israfil A.S. : “Mereka yang bersholawat kepadamu, aku akan sujud kepada Allah S.W.T dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah S.W.T mengampuni orang itu.”
Malaikat Izrail A.S pula berkata : “Bagi mereka yang berselawat ke atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi-nabi.”

sumber dari buku Mencari Makna Hidup ‘Islam Sebagai Jalan Hidup’
penulis : fery muhammad
penerbit : ananda publisher

Islam sumber cinta, Nabi dan Rosul

Mencintai Al-Qur’an

May 20th, 2009

675916785_9fef0f2827Siapa yang paling anda cintai didunia ini? Jawabnya adalah Allah. Didunia, kita tidak akan pernah berbicara dengan Allah, sedang Al-Qur’an adalah perkataan Allah. Barang siapa membacanya maka seolah-olah dia berbicara kepada Allah. Membaca al-Qur’an adalah salah satu bentuk mencintai Allah SWT.
Sebaik-baik bacaan adalah al-Qur’an, dan sebaik-baik amalan adalah membaca al-Qur’an. Karena itu, cintailah al-Qur’an dengan membiasakan diri untuk membaca al-Qur’an.
Abu Umamah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah menganjurkan semua ummatnya agar mempelajari Al-Qur’an, sabdanya : “Pelajarilah Al-Qur’an, di akhirat nanti dia akan datang kepadamu, yang di kala itu orang sangat memerlukannya.”
Ia akan datang dalam bentuk yang indah dan bertanya, ” Kenalkah kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : “Siapakah kamu?” Maka berkata Al-Qur’an : “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari.” Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur’an itu : “Apakah kamu Al-Qur’an?” Lalu Al-Qur’an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah, Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : “Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?” Lalu dijawab : “Kamu diberi ini semua karena anak kamu telah mempelajari Al-Qur’an.”
Orang beriman mentaati Allah dan suka membaca Al-Qur’an. Pernahkah anda berfikir, secara tidak langsung Allah membimbing kita semua melalui Al-Qur’an. Dengan seringnya membaca Al-Qur’an, Allah akan memberikan hidayahnya kepada siapa saja.
Dengan membaca Al-Qur’an, Allah senantiasa memimpin dan membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman dengan penuh kasih sayang, Allah juga akan membuka matahati kita untuk melihat kebenaran dan memberikan jalan keluar bagi setiap persoalan hidup kita.
Karena itu, berbahagialah orang yang mencintai Al-Qur’an, ia akan hidup dalam petunjuk dan naungan kasih Allah. Siapa yang membacanya, ia akan merasakan manisnya iman yang tiada tara.

Pentingnya al-Qur’an
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an ini suatu bangsa dan merendahkan bangsa yang lain”. (HR. Muslim)
Allah berfirman, “…Dan sekiranya ada satu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat bicara, (tentu Al-Qur’an itulah dia)…”. (QS.Ar-Rad’ : 31).

sumber dari buku Mencari Makna Hidup ‘Islam Sebagai Jalan Hidup’
penulis : fery muhammad
penerbit : ananda publisher

Al- Quran, Islam sumber cinta