9. Kunci kekayaan hati adalah menghayati al-Qur’an,
mendekatkan diri kepada Allah, dan meninggalkan dosa-dosa.
Kebahagiaan akan datang, keharmonisan akan tercipta, ketentraman akan tumbuh, dengan kekayaan hati. Hati yang bersih akan membentuk pikiran yang tenang, hati yang mulia akan membentuk pribadi yang mulia pula, indah dipandang, dan orang senang bergaul dengannya.
Hati, bagi jiwa, bagai Raja yang memberikan ketentraman bagi rakyatnya, bagai kapten yang mengomandani nakhoda kapal yang sedang berlayar. Rasulullah pernah bersabda tentang penggambaran tentang keagungan hati, “Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, apabila ia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Kekayaan hati dapat dibentuk dengan tiga hal, yaitu dengan menghayati al-Qur’an, mendekatkan diri kepada Allah, dan meninggalkan dosa-dosa.
Menghayati al-Qur’an.
Sebaik-baik amalan adalah membaca al-Qur’an, dan sebaik-baik bacaan adalah al-Qur’an. Karena itu, cintailah al-Qur’an, dengan membiasakan diri untuk membacanya.
Al-Qur’an adalah perkataan Allah. Barang siapa membacanya, maka seolah-olah dia berbicara kepada Allah. Membaca al-Qur’an adalah salah satu bentuk mencintai Allah SWT.
Rasulullah menganjurkan semua ummatnya agar mempelajari Al-Qur’an, Rasulullah bersabda : “Pelajarilah Al-Qur’an, di akhirat nanti dia akan datang kepadamu, yang di kala itu orang sangat memerlukannya.”
Ia akan datang dalam bentuk yang indah dan bertanya, ” Kenalkah kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : “Siapakah kamu?” Maka berkata Al-Qur’an : “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari.” Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur’an itu : “Apakah kamu Al-Qur’an?” Lalu Al-Qur’an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah, Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : “Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?” Lalu dijawab : “Kamu diberi ini semua karena anak kamu telah mempelajari Al-Qur’an.” (HR.Abu Umamah r.a.)
Dengan membaca Al-Qur’an, menghayatinya, Allah senantiasa memimpin dan membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman dengan penuh kasih sayang, Allah juga akan membuka mata hati kita untuk melihat kebenaran dan memberikan jalan keluar bagi setiap persoalan hidup kita.
Karena itu, berbahagialah orang yang mencintai Al-Qur’an, ia akan hidup dalam petunjuk dan naungan kasih Allah.
Sahabatku, begitu mulianya al-Qur’an, maka perolehlah kemuliaannya. Dengan mencintainya, hati akan senantiasa lekat dan selalu ingin membacanya di berbagai kesempatan, mereka itulah orang-orang beriman.
Allah berfirman, “…Orang-orang yang telah kami beri Al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya…” (QS. Al-Baqarah :121)
Luangkanlah waktu untuk mentatadaburi Al-Qur’an
Pengertian tadabbur adalah usaha memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang dibaca atau didengar, dengan disertai kekhusukkan hati dari anggota badan serta dibuktikan dengan mengamalkannya.
Hikmah Al-Qur’an sendiri tidak akan pernah habis digali, dan akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang mengimaninya.
Amalkanlah Al-Qur’an
Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang-orang yang mempelajarinya dan mengajarkan (Al-Qur’an). (HR.Bukhari dan Muslim)
Bentuk mengamalkan Al-Qur’an adalah menjalankan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan yang ada didalam Al-Qur’an, dan seorang muslim hendaknya mengimplementasikan apa yang di perolehnya dari Al-Qur’an.
Sahabatku yang mulia..
Tahukah engkau, hanya dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai penunjuk jalan, manusia akan selamat di dunia dan di akhirat. Di akherat kelak, Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi orang yang suka membacanya, mentadaburi, dan mengamalkannya, dia akan membantumu dihadapan pengadilan Allah. Rasullullah bersabda: “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari Kiamat”(HR Bukhari dan Muslim)
Mendekatkan diri kepada Allah
Rasulullaah pernah berkata pada Ananda Fatimah, sabdanya: “Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat. ‘Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya kamu mendapatkan Allah di hadapanmu. Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu mohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah kepada Allah.
Ketahuilah, meskipun ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu mereka tidk akan bisa memberi manfaat kepadamu dengan apapun kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Dan jikalau seluruh ummat manusia bersat untuk memberi mudharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan memberi mudhart kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah untukmu. penah, telah terangkat dan shuhuf telah kering.” (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi)
Pesan hadits diatas adalah: 1) Barang siapa memelihara perintah-perintah Allah, maka Allah akan menjaganya, baik di dunia maupun di akhirat. 2) Barang siapa menunaikan perintah-perintah Allah, maka Allah akan mengeluarkannya dari kesulitan. 3) Barangsiapa hendak meminta, maka hendaklah ia meminta kepada Allah. 4) Sesungguhnya sesudah kesusahan itu ada jalan keluar, dan sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 5) Manusia tidak akan tertimpa sesuatu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah atas dirinya.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah: 1) Tidak ada satu bencanapun yang menimpa kecuali disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. 2) Amalan-amalan yang shalih itu bisa menolak bencana. 3) Hadapkan dirimu kepada Allah dalam setiap keperluan.
Meninggalkan dosa-dosa
Menjalankan perkara-perkara yang dilarang, mengakibatkan timbulnya dosa. Misalnya berbuat syirik, berkata bohong, bersikap munafik, dan yang lain. Selain itu, melakukan perkara-perkara yang tidak dicontohkan dan tidak dianjurkan Nabi, juga menimbulkan dosa.
Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang berbuat hal yang baru dalam perkaraku ini (agama islam), padahal itu tidak termasuk didalamnya maka ditolak.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang berbuat amal yang tidak terdapat atau ada perintahku maka itu tertolak.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)
Hadits diatas merupakan peringatan mengenai bahaya bid’ah yang tercela secara syara’. Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits diatas adalah seruan untuk tidak mengerjakan bid’ah. Karena Islam merupakan agama yang sempurna.
Dalam kesempatan lain, Rasulullah bersabda: “Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu menuju pada hal-hal yang tidak meragukanmu”. (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi)
Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah: 1) Tinggalkan keraguan dan peganglah keyakinan. 2) Keyakinan tidak hilang disebabkan oleh keraguan. 3) Disunnahkan menghindarkan diri dari perselisihan para ulama. 4) Dorongan untuk bersikap wara’.
Selain itu, Rasulullah juga melarang ummatnya berbuat sesuatu yang berbahaya dan membahayakan. Rasulullah bersabda: “Tidak boleh berbuat sesuatu yang berbahaya dan membahayakan orang lain.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah, Segala bentuk bahaya atau kemadharatan terhadap jiwa, harta, keluarga dan harga diri, harus dijauhi.
Islam