Archive

Archive for the ‘Sholat’ Category

Hikmah Sholat

May 29th, 2009

HIKMAH SHOLAT
Sholat disyari’atkan sebagai bentuk tanda syukur kepada Allah, untuk
menghilangkan dosa-dosa, ungkapan kepatuhan dan merendahkan diri di
hadapan Allah, menggunakan anggota badan untuk berbakti kepada-Nya yang
dengannya bisa seseorang terbersih dari dosanya dan tersucikan dari
kesalahan-kesalahannya dan terajarkan akan ketaatan dan ketundukan.
Allah telah menentukan bahwa sholat merupakan syarat asasi dalam
memperkokoh hidayah dan ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam
firman-Nya:
“Alif Laaam Miiim. Kitab (Al Qur-an) tidak ada keraguan di dalamnya,
menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman
kepada yang ghaib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezki yang
Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah : 1-2).
Di samping itu Allah telah mengecualikan orang-orang yang senantiasa
memelihara sholatnya dari kebiasaan manusia pada umumnya: berkeluh kesah
dan kurang bersyukur, disebutkan dalam fiman-Nya:
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir. Apabila
ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan
ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat, yang mereka
itu tetap mengerjakan sholat.” (QS Al Ma’arij: 19-22).

Sholat Kita.cjb.net

Sholat

Hikmah Di Balik Perintah Shalat

May 29th, 2009

Hikmah Di Balik Perintah Shalat
Bulein Annur – ALSOFWAH.OR.ID
Sesungguhnya hikmah di balik perintah shalat, demikian pula hikmah di
balik larangan meninggalkannya banyak sekali, namun karena keterbatasan
ruang, kita akan menyinggung sebagian saja darinya . Di antara hikmah di
balik perintah shalat yaitu:

1. Shalat merupakan Rukun Islam Teragung setelah Dua Kalimat Syahadat
(asy Syahadatain).

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
“Islam dibangun di atas lima hal; Persaksian bahwa tiada Tuhan -yang haq
disembah- selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah; Mendirikan Shalat;
Membayar zakat; Mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa Ramadhan.”
(Muttafaqun ‘alaih)

Dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu bahwasanya tatkala Rasulullah
shallallahu ‘alihi wasallam membagi-bagikan harta rampasan perang, ada
seorang laki-laki berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, bertaqwalah
engkau kepada Allah.” Lalu beliau menjawab, “Celakalah engkau, bukankah
aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertakwa kepada Allah.?”
Maka, Khalid bin al-Walid zpun berkata, “Biar aku penggal saja lehernya,
wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Tidak, semoga saja ia kelak
melaksanakan shalat.” (Muttafaqun ‘alaih)

2. Shalat adalah Kembaran Semua Kewajiban Dan Rukun-Rukun.

Shalat merupakan ibadah yang paling banyak disebut di dalam al-Qur’an.
Terkadang disebut secara khusus (tersendiri), seperti firman-Nya, artinya,

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan sore) dan pada
bahagian permulaan malam.” (Hûd:114)

Terkadang disebut berurutan dengan sabar, seperti firman-Nya, artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan
sabar dan shalat.” (al-Baqarah:153). Terkadang disebut berurutan dengan
zakat seperti firman-Nya, “Dan dirikanlah shalat serta bayarlah zakat.”,
dan banyak lagi contoh lainnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alihi
wasallam bersabda,
“Tiga hal yang aku bersumpah atasnya, (agar) Allah tidak menjadikan siapa
saja yang memiliki bagian (saham) dalam Islam, sama seperti orang yang
tidak memilikinya. Dan saham-saham Islam itu ada tiga: shalat, puasa dan
zakat.” (Hadits Shahih)

Allah subhanahu wata’ala tidak menyebutkan shalat yang digandengkan dengan
kewajiban-kewajiban lainnya melainkan Dia mendahulukan shalat atas
selainnya. Misalnya, shalat disebutkan di dalam pembukaan amal-amal
kebajikan dan penutupnya sebagaimana dapat kita lihat pada awal surat
al-Mu’minun dan al-Ma’arij.

3. Shalat merupakan Induk Semua Ibadah.

Seorang hamba diperintahkan agar meresapi dan khusyu’ dalam shalatnya baik
secara lahiriah maupun batin dan membuat hati, lisan dan seluruh anggota
badannya larut di dalamnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu
wata’ala, “Dan berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”
(al-Baqarah:238)

Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam shalat
itu terdapat kesibukan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Artinya, seorang yang sedang melakukan shalat dilarang makan, minum,
menoleh dan banyak bergerak. Ini tentunya berbeda dengan ibadah-ibadah
lain selain shalat yang hanya diwajibkan atas sebagian anggota badan saja.
Orang yang berpuasa misalnya, masih boleh untuk berbicara, seorang mujahid
masih boleh menoleh-noleh dan berbicara, seorang yang melakukan haji masih
boleh makan dan minum namun shalat tidak demikian. Di dalamnya terdapat
berbagai jenis bentuk ibadah yang lengkap; ibadah hati, akal, badan dan
lisan. Ibadah lisan tercermin pada ucapan syahadatain, takbir, ta’awwudz,
basmalah, bacaan al-Qur’an, tasbih, tahmid, istighfar dan doa-doa. Ibadah
anggota badan terefleksi pada aktivitas berdiri, ruku’, sujud, i’tidal
(bangun dari ruku’), turun untuk sujud, mengangkat tangan dan duduk.
Ibadah akal terefleksi pada aktivitas berfikir, merenungi (tadabbur) dan
memahami. Sedangkan ibadah hati terefleksi pada kekhusyu’an, rasa takut,
rasa ingin mendapat pahala, kenikmatan, ketundukan dan tangis (karena rasa
takut kepada Allah subhanahu wata’ala).

4. Shalat merupakan Wasiat Terakhir Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam
.

Dalam detik-detik terakhir keberadaannya di alam fana’ ini dan di
saat-saat menghadapi sakaratul maut, Rasulullah hanya berwasiat tentang
shalat dan masalah budak saja. Hal ini sebagaimana dalam hadits shahih
yang diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Adalah kata
terakhir Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, ‘Dirikanlah Shalat,
Dirikanlah shalat. Takutlah kamu kepada Allah terhadap para budak kamu.”

5. Shalat merupakan Cermin Amalan Seorang Muslim dan Neraca Seberapa Agung
ad-Dien di Hati Seorang Mukmin.

Shalat merupakan neraca yang melaluinya manusia mengukur seluruh
amalannya; apakah bertambah atau berkurang sebagaimana halnya alat periksa
yang digunakan seorang dokter untuk memonitor tekanan darah pasiennya.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alihi wasallam
bersabda,
“Hal pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) terhadap seorang hamba
pada hari Kiamat kelak adalah shalat; bila ia baik (layak) maka akan
baiklah seluruh amalannya dan bila ia rusak, maka akan rusaklah seluruh
amalannya.”

Sebelum penilaian sisi keunggulan dilakukan terhadap hal-hal lain seperti
dalam keilmuan dan kecerdasan, maka hal paling pertama yang dijadikan
tolok ukur keunggulan antar sesama manusia adalah kondisi shalatnya.
Inilah tolok ukur yang benar dan dengannya seseorang dinilai tingkat
keberagamaan dan kedudukannya dalam Islam.

Sesungguhnya setiap orang yang menganggap ringan dan meremehkan shalat,
maka pasti ia juga menganggap ringan dan meremehkan dien al-Islam, sebab
ukuran seseorang dalam Islam itu disesuaikan dengan ukuran dari shalatnya.
Bila anda ingin mengetahui kadar keinginan anda terhadap Islam, maka
periksalah keinginan shalat anda sebab kadar keislaman di hati anda adalah
seukuran kadar shalat yang ada di dalamnya. Bila anda ingin mengukur
keimanan seorang hamba, maka lihatlah seberapa besar ia mengagungkan
shalat.

Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits Hasan,

“Siapa saja yang ingin mengetahui apa yang didapatkannya di sisi Allah,
maka hendaklah ia melihat seberapa besar (kewajiban) terhadap Allah
mendapat perhatiannya.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Wahai Anak Adam, apa lagi yang kau banggakan
dari agamamu bila shalat telah kau remehkan.”

6. Shalat merupakan Keterbebasan dari Kemunafikan.

Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang mendirikan shalat sebanyak 40 hari secara berjama’ah, ia
(selalu) mendapatkan takbir pertama, niscaya akan dicatat baginya dua
keterbebasan: keterbebasan dari api neraka dan keterbebasan dari
kemunafikan.” (Hadits Hasan)

7. Shalat merupakan Cahaya, Bukti (Hujjah) dan Kecemerlangan.

Shalat merupakan cahaya yang menghilangkan tindakan aniaya dan kebatilan.
Ia memancarkan cahaya, menjadikan elok dan kecemerlangan bagi pelakunya
-sebagaimana yang dapat dirasakan sendiri oleh kita- serta menyinari
kuburan pelakunya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Abu ad-Dardâ’
radhiyallahu ‘anhu, “Shalatlah kamu dua raka’at di kegelapan malam untuk
(menyinari) kegelapan kuburanmu.” Demikian juga, ia akan berkelap-kelip
kelak di hari Kiamat yang memancar dari jidat pelakunya. Rasulullah
shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Shalat itu adalah nur (cahaya).”
(HR.Muslim)

Dalam sabdanya yang lain, ”Shalat itu adalah bukti (Hujjah).” Yakni bukti
bagi keimanan pelakunya.

8. Shalat merupakan Anugrah Rabbani.

Shalat memiliki keistimewaan tak terhingga atas ibadah wajib lainnya,
sebab Allah subhanahu wata’ala sendiri yang telah mewajibkannya karena
mengagungkan kedudukannya. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam
sendiri pula yang langsung menerima perintah tersebut dari Allah subhanahu
wata’ala tanpa perantara, yakni pada malam Isra’. Karena itu, ia adalah
anugrah Rabbani yang dianugrahkan-Nya kepada Nabi dan kekasih-Nya,
Muhammad shallallahu ‘alihi wasallam pada malam yang begitu agung sebagai
bentuk imbalan kepada beliau atas ibadahnya yang tulus kepada Rabbnya.

Sholat