Home > Islam > Renungan Sedetik bagi Ortu Kita

Renungan Sedetik bagi Ortu Kita

January 21st, 2010

Renungan Sedetik bagi Ortu Kita
PERNIK – Ahad, 27 Januari 2002
Beberapa hari yang lalu aku menerima telepon dari salah seorang temankuliahku yang sudah lama sekali tidak pernah terdengar kabarnya.Pembicaraan yang semula mengenai kegembiraan masa lalu dan acara wisuda yang baru saja ia lalui berubah menjadi pembicaraan yang sangat menyentuh hati ketika ia bercerita mengenai ayahnya.

Kesehatan ayahnya yang memburuk akhir-akhir ini membuat ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit.Karena penyakit yang dideritanya, ayahnya menjadi susah tidur dan sering berceloteh sendiri. Temanku yang sudah beberapa hari terakhir tidak pernah tidur karena menjaga ayahnya menjadi jengkel dan berkata dengan ketus pada ayahnya supayaayahnya diam dan tidur dengan tenang.Ayahnya menjawab bahwa ia juga sebenarnya ingin beristirahat karena ia sudahlelah sekali, dan jika temanku itu keberatan menemani dirinya, biarlah iasendiri menjalani perawatan di rumah sakit. Setelah berkata demikian, ayahnya menjadi tidak sadarkan diri dan harusmenjalani perawatan di ICU [intensive care unit].

Temanku begitu menyesal atas kata-kata yang tidak selayaknya keluar darimulut seorang anak kepada ayahnya sendiri. Temanku yang aku kenal sebagai orang yang tegar, menangis tersedu-sedu diujung pesawat teleponku. Ia berkata bahwa mulai saat itu, setiap hari iaberdoa agar ayahnya sadar kembali. Apapun yang ayahnya akan katakan danperbuat pada dirinya akan diterima dengan senang hati.Ia hanya berharap padaTuhan agar diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya yang lalu, yang mungkin akan disesali seumur hidupnya…….Sering kali kita mengeluh ketika menemani atau menjaga orang tua kita hanyadalam hitungan tahun, bulan, hari, jam, bahkan dalam hitungan menit.Tapipernahkah kita pikirkan bahwa orang tua kita menemani dan menjaga kitaseumur hidup kita dan seumur hidup mereka.

Sejak lahir hingga dewasa, bahkan hingga tiba saatnya ajal menjemput,mereka selalu menyertai kita. Ketika pada akhirnya mereka menghadap Sang Kuasa pun, seluruh kenangan yang mereka tinggalkan selalu menyertai selama hidup kita.Bayangkan betapa hancur hati kedua orang tua kita oleh [hanya]sepatahkatayang singkat, ‘tidak’, yang keluar dari mulut kita ketika mereka berusaha merengkuh kita dalam pelukan kasih sayang sejati, yang justru sering kitalihat sebagai sesuatu yang mengekang dan menahan kita untuk terbang bebas diangkasa.Entah kata apa lagi yang paling tepat untuk menggantikan kata ‘tangis’ bila tiada lagi air mata yang keluar dari kedua mata mereka,karena telah habis digunakan untuk menyirami hari-hari dalam kehidupan kita agar terus tumbuh dan menghasilkan bunga dan buah yang menyemarakan hari-hari kelam dalam roda kehidupan yang terus berputar. Kita dapat mulai berjanji pada diri masing-masing bahwa sejak saat ini tiada lagi keluhan yang keluar darimulut kita ketika menemani dan menjaga kedua orang tua kita. Tiada lagi keluhan yang keluar dari mulut kita ketikamerasa merakaterlalu memperlakukan kita seperti anak kecil.

Percayalah, di luar sana banyak orang yang tidak seberuntung kita yang mempunyai orang tua, yangmerindukan hal-hal yang kita keluhkan, tetapi tidak pernah mereka dapatkan. Sebenarnya, hanya sedetik waktu yang dibutuhkan untuk merenung dan menyalakan lentera yang akan membimbing kita ke tempat di mana kedamaian terpendam. Sekarang tinggal tergantung dari diri kita sendiri, maukah kitameluangkan waktu yang sangat singkat itu namun besar artinya untuk sepanjangperjalanan hidup kita.

Anda dapat melihat keseluruhan taushiyah di group ini pada:http://groups.yahoo.com/group/taushiyah-only/messages


fie3 Islam

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.